Oleh: demoffy | September 28, 2008

Fotovoltaik, Energi Altenatif Masa Depan

DI tengah tengah gencarnya pemberitaan mengenai energi alternatif, Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) sejak tahun 1999 melaksanakan kegiatan penelitian, pengkajian, dan penerapan berbagai sistem pembangkit listrik tenaga surya.

Yang berhasil diterapkan, di antaranya sistem pompa air fotovoltaik, sistem  lampu penerangan fotovoltaik, sistem radio reley fotovoltaik, sistem TV repearte fotovoltaik dan sistem medical core fotovoltaik.

Di samping itu BPPT juga telah merintis sarana laboratorium yang dipusatkan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lamboratorium Sumberdaya dan Energi, Puspitek, Serpong, yang terdiri atas laboratorium sel surya dan pusat penelitian fotovoltaik.

Sistem pompa air tenaga surya telah diujicobakan di Dusun Songgilap,  Ploso, Giritirto, dan Purwosari di Kabupaten Gunungkidul (DIY). Juga di Sumbawa, Sukatani, Kenteng. Sistem pompa air fotovoltaik di Songgilap mempunyai kapasitas  1440 Wp dengan kapasitas  500 W. Sumber air itu terdapat pada se-buah gua (sungai bawah tanah) dengan kedalaman 150 meter dari permukaan tanah.

Debit air per hari 12 m kubik. Itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air untuk 5 desa dengan 400 KK atau 3000 jiwa.
Di Desa Pemuda, Wee Muu dan Goluwatu, Sumbawa, juga telah diterapkan sistem pompa fotovoltaik.

Karena masukan tengangan pompa adalah AC, maka tegangan DC inverter. Untuk memanfaatkan energi surya, in-verter didesain sedemikian rupa agar mampu memanfaatkan energi listrik yang dihasilkan semaksimal mungkin. Oleh karena itu inverter dilengkapi dengan rangkaian MPP (Maxsimum Po-wer Point) dan sistem V3F (Variable Voltage Variable Frequency).

Sejenis sistem pompa yang diterapkan di Songgilap dan We Muu di Balaraja, Tangerang, juga dipasang pompa fotovoltaik yang digunakan untuk penjernihan air. Proses penjernihan air ini pasif (tanpa bagian yang bergerak)  dan bakteriologis.

Itu tidak memerlukan tambahan bahan kimia dan hanya membutuhkan perawatan minimum oleh seorang pekerja yang hanya lulusan SMK saja. Sumber air diperoleh dari sungai.

Setelah mengalami proses penjernihan “potapak”, air bersih yang dihasilkan sebesar 28 m3 per hari sudah dapat ditampung di bak penampungan dan bisa langsung digunakan.

Di samping Songgilap, di Desa Kenteng juga dipasang sistem lampu penerangan fotovoltaik. Kapasitas fotovoltaik 20kWp dengan baterai 1600 AH, 200 V sebagai penyimpan energi.

Bebannya berupa lampu penerangan untuk 86 rumah penduduk, jalan desa, balai desa, puskesmas, dan refrigeraor untuk menyimpan obat-obatan.  Di desa Mangkung, Kecamatan Praya Barat, NTB, juga telah dipasang sistem pelistrikan fotovoltaik dengan kapasitas 450 Kp untuk  keperluan penerangan jalan desa.

Di desa Sukatani, Kecamatan Balaraja, juga telah dipasang sistem pelistrikan fotovoltaik oleh BPPT dengan kapasitas 600 Wp. Di Sukatani dan Kenteng, catu daya (power plant) tersentralisasi.

Sistem desentralisasi SESF (sistem energi surya fotovoltaik)  jenis SHS (solar home system) atau untuk keperluan perumahan, telah dipasang di desa Sukatani, Kecamatan Parakan Salak, Kabupaten sukabumi sebanyak 102 unit (80 penerang rumah tangga, 15 penerangan jalan, 3 penerangan rumah ibadah, 1 madrasah dan 1 balai desa).

Penduduk yang menerima peralatan SHS dapat memanfaatkannya untuk penerangan 1 lampu 10 W, 2 lampu masing-masing 5 W, dan 1 TV/radio. Delapan puluh rumah tangga ini masing-masing hanya mengeluarkan biaya Rp 100.000 untuk pemasangan tiang dan iuran per bulan Rp 3500 untuk biaya pengelolaan dan perawatan.

Pengalaman  penerapan teknologi tenaga surya di Sukatani, diharapkan bisa menjadi masukan dalam pembentukan model pengembangan sistem dan model penerapan teknologi tenaga surya untuk daerah pedesaan di Indonesia.

Laboratorium

Untuk menunjang kegiatan pelaksanaan penelitian, pengkajian dan penerapan teknologi fotovoltaik, laboratorium Sumberdaya dan Energi BPPT di kawasan Puspitek Serpong, dilengkapi dengan berbagai fasilitas.

Fasilitas ekesperimental sistem fotovoltaik digunakan untuk melakukan pengujian dan penelitian berbagai konfigurasi sistem, unjuk kerja (performance), optimasi desain dan verifikasi komponen subsistem fotovoltaik.

Pengujian pemanas air energi surya  diarahkan pada kolektor temperatur tinggi dan aplikasinya, antara lain Pompa Panas Surya (Solar Thermal Pump) dan sistem pendingin dan pemanas. Di Serpong juga dilakukan pengujian fotovoltaik jenis silikon amorf generasi ke IV sebagai catu daya sistem pompa dan pendingin-pemanas.

Laboratorium Sel Fotovoltaik digunakan untuk pembuatan dan pengujian Sel Fotovoltaik. Mikrokomputer LPDS (low power data system) sangat bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengolah data di daerah terpencil dan MODAS (Mobile Data Acqusition System) yang dipasang pada peralatan pemantau cuaca juga merupakan alat pengukuran data di daerah terpencil.

Beberapa peralatan lainnya, antara lain almari pendingin fotovoltaik, pengering gabah tenaga surya, dan pompa panas surya.

Sistem radio komunikasi fotovoltaik yang dipasang di Pulau Laut, Kep. Natuna untuk mencatu daya peralatan radio komunikasi dikerjakan bersama Badan Pengkajian dan Pengembangan Industri, Departemen Pertahanan, serta Kep. Seribu dikerjakan bersama dengan Direktorat Navigasi dan Geodesi, Dirjen Perhubungan Laut.

Teknologi Surya

Terlepas dari keberhasilan penelitian, pengkajian dan penerapan berbagai teknologi fotovoltaik yang dilakukan BPPT, pengembangan teknologi surya masih harus menghadapi banyak kendala.

Satu unit teknologi surya dengan kapasitas 45W pada tahun 2000 harganya sekitar Rp 6,5 juta. Sekarang  harganya bisa ditekan  sekitar Rp 1,4 juta – Rp 4 juta. Alat penerangan yang demikian hanya akan cocok dipasangkan di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik PLN dan tidak ada sumber energi alternatif lainnya.

Konfigurasi antara teknologi surya dengan tenaga air dan mesin disel rasanya perlu dikembangkan. PLN kini sedang memikirkan pengembangan teknologi surya dengan disel yang dikenal dengan sistem hibrida. Pengembangan teknologi surya dengan berbagai konfigurasi yang diterapkan di pedesaan akan merupakan bagian dari program yang strategis pemerintah.

Menghadapi masa depan yang penuh tantangan dan harapan, tiga pernyataan optimis perlu diperhatikan. Menristek Kusmaryanto Kadiman menyatakan, teknologi canggih fotovoltaik akan sangat cocok diterapkan di daerah pedesaan terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik PLN.

Dalam tahun 2025 mendatang, Indonesia diharapkan sudah harus mampu mewujudkan gagasan Indonesia Surya, yaitu dengan membangun beberapa Instalasi Pusat Listrik Tenaga Surya yang mampu menghasilkan listrik 800 MW.
Namun, berbagai pihak banyak yang pesimis dengan melihat kondisi kapasitas sel surya terpasang saat ini yang cuma sebesar 10 MW. Target tersebut dianggap terlampau ambisius.

—Amien Nugroho, pegiat populerisasi sains, tinggal di Bantul.
Sumber : http://www.suaramerdeka.com


Responses

  1. Saya Danan, 29 Th,
    saya seorang pengusaha muda (UKM)
    Jauh sebelum orang meributkan efisiensi energi dan energi alternatif, kami sudah melakukan penelitian selama 6 Tahun terakhir tentang tungku sekam, dan baru kami jual secara masal setelah saya memutuskan untuk usaha sendiri 2 tahun yang lalu.

    modal awal kami 1,5 jt waktu itu, Alhamdulillah setelah mulai lancar kami berhasil menjual 23 unit tersebar dari Banyuwangi hingga Tegal.

    hari ini saya membaca berita dari liputan enam (14 oktober 2008) tentang kayu sebagai bahan bakar alternatif ungulan, saya antara antara mendukung dan menolak pendapat ini. Mendukung karena mungkin menciptakan lapangan kerja baru, menolak karena sebetulnya ada yang lain selain kayu yang juga ungulan yang mungkin tidk merusak ekosistem alam akibat penebangan kayu yang berlebihan. bahan bakar dari produk yang kami buat adalah dari sekam, serbuk kayu, tempurung kelapa, ampas tebu, serabut kelapa, jerami kering bahkan daun kering. coba dibandingkan, lebih baik mana dibandingkan dengan kayu.

    saya pikir didepan mata kita sudah tersedia sumber energi terbaharui dengan sangat murah, cuman mungkin orang indonesia saja yang kurang mau tahu. di desa tempat saya tinggal para penduduk mulai kami pengaruhi sedikit demi sedikit untuk meninggalkan elpiji dan beralih ke tungku sekam rumah tangga buatan kami. pertimbangannya simple, karena faktor kebisaan dan perasaan kalo elpiji naik lagi gimana, sedangkan sekam, jerami dam serbuk kayu melimpah didesa kami. kalo dikota mungkin teknologi ini belum bisa diterima. Yang dikawatirkan selama ini kalo timbul polusi asap dari pembakaran, kami sudah bisa atasi, artinya bebas polusi asap.

    cuma, kami hanya sebuah UKM dengan masalah klise.
    Mohon Kami diberikan Informasi tentang program
    yang berkaitan dengan Tungku sekam yang kami produksi

    Bagaimana caranya untuk menjalin kerjasama agar produk kami dapat dinikmati lebih luas oleh semua masyarakat

    untuk informasi keseriuasan kami bisa diperoleh dari
    http://www.santosorising.com

    Kami bersedia memberikan informasi tambahan yang mungkin diperlukan

    Terimakasih

    Danan Eko Cahyono, ST

  2. @Danan E C, ST

    Ya mungkin dengan bahan kayu juga baik..
    Tapi harus diimbanginya dengan menanam kayunya kembali..
    atau seteLah ditebang ditanam…
    itu mungkin membutuhkan proses terLalu lama..
    dan membutuhkan proses2 yang berhubungan dengan kesabaran..

    dengan cara pubLikasi saja… mungkin masyarakat bisa langsung mengetahuinya….
    tapi itu penuh resiko…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: